Selamat malam, teman-teman.
Apa kabar kalian? Semoga selalu dalam keadaan baik dan diberkahi kesehatan.
Malam ini, saya ingin berbagi sedikit kisah dan refleksi hidup. Karena dalam hidup, ada orang-orang yang hadir di waktu tertentu dan meninggalkan jejak mendalam.
Tahun 2009 hingga 2011 adalah salah satu babak bagi saya—sebuah periode kedekatan, keintiman, dan pelajaran tentang berkasih sayang.
Namun ketika ujian datang berupa berkurangnya penglihatan, haluan pun berubah. Kami berpisah, raga menjauh, tanpa sempat benar-benar menyusun kata perpisahan. Hanya diam yang membentang.
Meski begitu, saya tidak benar-benar kehilangan dirinya. Suaranya tetap hidup di telinga saya. Ia seorang penyiar radio, dan sejak saat itu hingga bertahun-tahun kemudian, aku setia mendengarkan suaranya dari balik frekuensi.

Hingga kini, saya masih mengingat begitu banyak tentang dirinya. Saya paham karakternya, saya hafal ulang tahunnya, tahu nama keluarganya, bahkan ingat nama kucing kesayangannya. Seolah semua itu menjadi pengikat yang tidak pernah benar-benar saya lepaskan.

Seiring waktu, kabarnya semakin kabur. Suaranya di radio perlahan tak lagi terdengar. Hingga pada 28 April 2020, menjelang Idul Fitri, sebuah pesan tiba-tiba masuk ke Messenger Facebook saya. Pesan darinya bertuliskan:
“Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa terdahulu dan memberikan rahmat-Nya di masa depan.”
Saya terkejut, tapi juga bahagia. Saya pun membalas dengan doa tulus, menyapanya dengan panggilan “Ibu Dosen”, sebagai bentuk penghormatan terhadap perannya saat itu yang sudah menjadi seorang dosen.
Dan entah mengapa, saya juga mengirimkan sebuah jejak wajah dalam bingkai kenangan, yang diam-diam masih saya simpan hingga hari itu.
Ia pun kaget, dan sejak hari itu, kami tidak lagi saling menghubungi. Aku memilih diam, karena aku sadar akan ruang, batas, dan posisiku. Ia kini telah jauh melangkah, sukses dalam jalannya, sementara aku masih bertahan dengan langkah kecilku sendiri.
I carry the quiet truth of who I am, of my place, and of the fragile light I walk in.
Beberapa waktu kemudian, ibundaku tercinta wafat karena Covid-19. Sejak saat itu aku pun jarang membuka media sosial.
Sekitar lima tahun berlalu, tepatnya kemarin, tanggal 28 September, saya menemukan kembali akun Facebook-nya. Dengan hati tanpa warna rasa apapun, saya kirim permintaan pertemanan. Tidak ada maksud lain, tidak ada niat mengganggu kehidupan pribadinya. Saya hanya ingin bersilaturahmi, sambil melihat konten-konten akademis yang ia bagikan.
Namun, seketika itu juga, akun saya langsung diblokir. Oleh karena itulah tulisan ini lahir, dan aku menuliskannya di sini sambil berharap suatu hari dikau membacanya.

Pertanyaan di Ujung Keheningan
Sesungguhnya dalam hati kecilku masih terus bertanya-tanya:
- “Apa salahku?”
- “Apakah kamu benci kepadaku karena kisah lalu?” (Jika ya, mungkin karena luka lama yang belum sembuh).
- “Atau kamu jijik dengan kondisiku saat ini?” (Jika begitu, mungkin itu pilihan pandanganmu yang harus aku hormati).
Tetapi, mengapa pada 28 April 2020 dikau masih sempat mengirim pesan, sedangkan kini sekadar permintaan pertemananku pun ditolak begitu tegas?
Sungguh, itu di luar jangkauan khayalku.
Memahami Perubahan Lewat Lensa Waktu
Mungkin waktu memang mengubah segalanya, termasuk cara pandang manusia. Filsuf Herakleitos pernah berkata panta rhei—segala sesuatu mengalir. Apa yang dulu dianggap wajar, kini bisa dianggap tak pantas.
Orang-orang seperti Foucault pun pernah mengisyaratkan bahwa ruang-ruang sosial selalu bergeser. Sehingga apa yang dulu terbuka untuk bernostalgia, kini harus dikau tutup rapat demi menjaga reputasi, eksistensi, dan tahta kehidupanmu.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sungguh, sumpah mati! Permintaan pertemanan yang aku kirimkan tak lebih dari niat menjaga silaturahmi. Tidak lebih dari itu.
I stand humbly, aware of my being, my limits, and the silence that shapes me.
Namun jika bagimu hal itu tidak pantas, maka saya harus menerima dan menghormati keputusanmu. Aku menuliskan ini bukan untuk membuka luka lama, melainkan sebagai refleksi—sebagai jejak hidupku yang pernah ada.
Kata Penutup dan Doa dari Kejauhan
Aku mengetuk pintu bukan untuk masuk,
Hanya untuk menyapa dari kejauhan.
Kenangan itu seperti api kecil, bisa menghangatkan, tapi juga bisa membakar.
Di ujung tulisan ini, izinkan aku memohon maaf yang sedalam-dalamnya. Maaf atas segala kata, sikap, dan jejak masa lalu yang mungkin pernah melukai, baik sengaja maupun tidak.
Tidak ada niatku selain menjaga silaturahmi, meski langkahku seringkali tampak canggung dan salah arah.
Dan jika suatu saat dikau membaca ini, ketahuilah aku selalu menghormati jarak yang ada di antara kita. Aku tidak ingin meruntuhkan apa yang telah dikau bangun, hanya sebatas ingin menaruh seutas doa di kejauhan untuk seseorang yang lahir di bulan Juli, yang pernah menjadi bagian hangat dalam perjalanan hidupku.
Semoga Allah selalu melindungimu dalam setiap langkah, diberi berkah atas ilmu yang kamu ajarkan ke peserta didikmu, dan menjadikan hidupmu penuh cahaya.
Salamku yang terakhir, tanpa harap balasan.
Semoga dikau selalu bahagia bersama orang-orang tersayang.
Sampaikan peluk hangatku pada Nayang, si comel yang selalu kau ceritakan dulu.
