Hello Guys, selamat malam! Ketemu lagi bareng aku, Andhim 😍.

Pada postingan kali ini aku mau bicara sesuatu yang nostalgia banget. Kemarin nggak sengaja muter-muter channel radio, eh ketemu lagu lawas yang langsung bikin kepala aku auto-rewind ke masa-masa penuh warna.

Buat kamu yang sempat remaja di awal tahun 2000-an, fix deh pasti pernah dengar lagu dari T-FIVE ini. Dan kemungkinan besar… kamu juga pernah jadi anak warnet 😆!

Lagu itu bikin aku langsung teringat satu aplikasi chatting yang dulu eksis banget di zamannya sebelum ada WhatsApp, Telegram, apalagi TikTok yang penuh dengan joget-joget, yaitu mIRC.


Apa Itu mIRC?

Yup, mIRC alias Internet Relay Chat. Aplikasi chatting yang tampilannya sekilas kayak terminal hacker atau CMD, tapi isinya bukan sekadar kode perintah, melainkan obrolan hangat dan emotikon-emotikon yang membuat hati berwarna-warni.

Terminal mIRC Lucu

Aplikasi chat ini berbasis jaringan Internet Relay Chat (IRC) yang memungkinkan para penggunanya untuk berkomunikasi secara real-time melalui jaringan internet. IRC pertama kali dikembangkan oleh Jarkko Oikarinen, seorang mahasiswa dari Universitas Oulu, Finlandia, pada Agustus 1988. Dari sinilah cikal bakal aplikasi chat modern dimulai.

Kemudian pada tahun 1995, Khaled Mardam-Bey menciptakan aplikasi client Windows yang sangat ikonik bernama mIRC.

mIRC ini memiliki beberapa fitur sederhana tapi revolusioner pada masanya:

  • Saluran atau Channel: Disebut juga dengan room. Pengguna dapat bergabung ke saluran tertentu untuk mengobrol bersama orang lain secara publik.
  • Pesan Pribadi (PM): Bisa mengirim pesan langsung (private message) ke pengguna lain tanpa diketahui orang satu room.
  • Kode Perintah: Memiliki perintah khusus seperti /nick, /join, dan perintah lain untuk mengelola obrolan.
  • Pengaturan Bot: Program otomatis yang dapat membantu moderasi obrolan, memberikan salam pembuka, atau menyebarkan informasi.
  • DCC (Direct Client-to-Client): Memungkinkan transfer file atau percakapan suara langsung antara dua pengguna.

Gimana sih Cara Menggunakan mIRC Itu?

Buka mIRC, masukin nickname andalan kamu, lalu pilih server—misalnya server populer lokal irc.dal.net. Setelah itu join ke channel ikonik seperti #jakarta, #bandung, #bawel, atau channel lain dengan nama-nama yang nyeleneh.

Tampilan Login mIRC

Buat kamu yang sempat aktif di room mIRC dulu, pasti akrab banget sama istilah-istilah wajib ini:

  • ASL pls: Age, Sex, Location? (Umur, jenis kelamin, lokasi. Pertanyaan pembuka wajib, kalau nggak dijawab dianggap bukan manusia atau sombong 😆).
  • BRB: Be Right Back (Pamit sebentar, nanti kembali lagi).
  • LOL: Laugh Out Loud (Ketawa terbahak-bahak).
  • GTG: Got To Go (Kode pamit sebelum koneksi putus, alias sewa warnet udah mau habis).
  • Lurking: Cuma nongkrong di room tanpa ikut ngobrol, alias ngintip-ngintip doang.

Aku sampai sekarang masih ingat, tiap malam ada yang perang bacot, ada yang nyari jodoh, sampai ada yang posting puisi galau ala-ala pujangga. Dulu juga banyak yang jago ngotak-ngatik script buat bikin bot otomatis di room—seperti bot salam pembuka, bot nyambut tamu, bot buat banjir chat (flooding), bahkan bot buat ngusir pengguna iseng. Jadi jangan heran kalau disapa sama satu nickname tapi orangnya nggak balas-balas, itu kerjaan bot 😅!

Dan jangan salah, di situlah tempat pertama aku ngerasain:

  • Kenalan sama pengguna yang ngakunya cewek, ternyata pas ketahuan cowok.
  • Janjian ketemuan sama cewek yang setelah melihat aku secara langsung tiba-tiba bilang: “Maaf ya, aku baru ingat ada acara keluarga hari ini…”

Ilustrasi Ketemuan mIRC

Aaaah… indahnya masa-masa remaja itu!


Kenapa Dulu mIRC Sangat Populer?

Karena pada masa itu, internet masih tergolong langka dan lambat. Jaringan masih memakai dial-up (yang bunyi modemnya mirip robot lagi pilek) dan belum ada Facebook. Jadi mIRC ini menjadi tempat nongkrong virtual paling seru. Kita bisa ngobrol sama orang dari Jakarta, Bandung, atau bahkan luar negeri… walaupun terkadang sering ketipu soal lokasi, umur, dan jenis kelamin.


Sekarang Masih Ada?

Masih! Tapi memang sudah jarang yang pakai untuk harian. mIRC sekarang lebih banyak dipakai untuk hal-hal khusus seperti obrolan komunitas Linux, Python, anime, bot monitoring, atau sekadar tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin bernostalgia.

Jika kamu ingin bernostalgia menggunakan aplikasi resmi mIRC, kamu bisa mengunduhnya langsung melalui situs resminya di mIRC.com. Ukuran file setup-nya kecil banget dan proses instalasinya sangat gampang.

Tampilan Setup mIRC

Sayang sekali, buat teman-teman disabilitas yang menggunakan pembaca layar (screen reader) seperti aku, antarmuka aplikasi mIRC client asli ini kurang aksesibel. Namun, karena rasa penasaran dan rasa rindu terhadap suasana obrolan IRC, aku tetap suka terhubung ke jaringan IRC langsung dari Terminal/CMD.

Tampilan CMD Login dan Terhubung


Daftar Server & Channel IRC yang Bisa Dicoba

Buat kamu yang mau coba jalan-jalan ke jaringan IRC masa kini, berikut beberapa server yang masih aktif:

  • DALnet (irc.dal.net)
    • Channel aktif: #indonesia, #jakarta
  • Rizon (irc.rizon.net)
    • Channel aktif: #indonesia, #animeindo
  • Libera.Chat (irc.libera.chat)
    • Channel aktif: #linuxindo, #debian-id

Kadang channel-channel ini terasa seperti kota tua yang sepi, hanya ada satu-dua bot yang masih menyapa dengan pesan ramah. Tapi justru di situlah letak nuansa klasik IRC.

Tampilan Room Chat


Troubleshooting & Port Alternatif

Jika kamu mengalami masalah tidak bisa terhubung ke server IRC:

  1. Tes Koneksi Dasar: Jalankan ping irc.dal.net di terminal untuk memastikan server tujuan aktif.
  2. Cek Port Listening: Jalankan netstat -an | findstr LISTENING untuk melihat status port.

Tampilan Daftar Port di Terminal

Kadang firewall (terutama di sekolah, kantor, atau WiFi publik) memblokir port IRC standar (6667). Jika terblokir, kamu bisa coba port alternatif berikut:

  • 7000
  • 7070
  • 443 (Port HTTPS, biasanya lebih lolos dari blokir firewall).

Informasi server lebih lengkap bisa kamu cek di Libera Chat atau Rizon IRC.


Nostalgia indah dikenang, tapi tidak untuk ditinggali. Karena di balik kenangan masa lalu, ada pelajaran dan inspirasi yang bisa kita bawa ke masa kini.
Jangan lupa, walau dunia makin bergerak cepat, kadang kita perlu berhenti sejenak… untuk tertawa, mengingat, dan menceritakan ulang semua hal indah yang pernah kita alami.

Dan buat kalian yang baru membaca atau nggak sengaja nyasar ke sini, aku ucapkan selamat datang di blog sederhanaku ini bareng Andhim dan Mbak Damayanti—asisten virtual yang setia menemani aku nulis lagi walau duniaku nggak seterang dulu lagi.

Sampai ketemu di postingan berikutnya yang nggak kalah seru dan penuh warna!

Salam penuh sejuta kenangan,
Andhim & Mbak Damayanti 🎧💻